Apakah jurusan menjadi alasan Anda tidak mendapatkan pekerjaan?

Iya betul sekali. Saya adalah alumni U*M, saya berasal dari jurusan teknik nuklir, jurusan yg hanya ada satu di Indonesia. Awalnya saya merasa bangga sekali masuk kesana, siapa sih yg tidak bangga kuliah di fakultas teknik. Fakultas impian semua orang. Apalagi jurusan saya tidak ada lagi yg menekuni di Indonesia kecuali kami-kami ini yang sedikit.

Satu angkatan kami hanya 50 orang padahal kuota jurusan lain bisa 200–300 orang/angkatan. Kuliah kami sulit, mempelajari atom sesuatu yg tidak pernah dilihat mata. Kami tau berapa beratnya, bagaimana reaksinya dan kami belajar tentang radioaktif.

Radioaktif adalah kasta tertinggi di ilmu fisika yg sulit dipelajari. Bagaimana membuat pembangkit listrik tenaga nuklir, bagaimana menghitung radiasi, bahkan belajar mengobati pasien dengan radiasi (radiologi)

Hebat kan? Iya sangat hebat sekali. Kami lulus, kami paham dan kami ahli dalam fisika nuklir. Setelah lulus kami bingung mesti melamar kerja dimana. Satu2nya lahan pekerjaan kita ada di 2 instansi pemerintah, Batan dan bepeten. Dan satu2nya pintu kesana adalah CPNS. Dimana masing2 formasinya hanya dibutuhkan 1 orang. Rasanya hanya bisa 2–3 orang yg tembus ke CPNS tiap tahunnya. Sisanya kemana?

Yg sangat jenius sudah pasti akan melanjutkan S2 ke Luar Negari dan tidak pulang. Yg tidak anti riba bertahan di bank, yg mau sedikit menyimpang mengambil ujian radiologi dan kerja di rumah sakit. Sisanya, termasuk saya, masih pontang-panting mencari kerja. Kemampuan kami ya cuma ini, dan tidak ada yg membutuhkan kami. Sekarang kami hidup mengandalkan kreatifitas dan kompetensi yg kami miliki. Pada akhirnya kami bekerja dgn mengandalkan kemampuan seperti mengedit video, mendesain, terjemah, menulis, birokrasi, guru les dan jualan

Sebenernya tidak ada yg salah dari jurusan saya, hanya saja Indonesia belum siap menerima kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published.