Apakah kamu pernah mendengar cerita orang yang haji tapi mendapat keanehan saat di Arab?

Cerita ini saya dapat dari seorang kerabat yang tahun kemarin baru saja melaksanakan ibadah haji. Uwa, begitu kami memanggil beliau adalah seorang pekerja keras, sehari-hari dia menghidupi keluarganya dari hasil bertani dan berkebun. Dia memiliki 2 anak lelaki yg keduanya sudah berkeluarga sehingga ia hanya tinggal di rumah berdua bersama emih, istrinya.

Uwa ini orang yg taat beribadah, dermawan, jujur dan luar biasa baiknya, pun emih. Dia bahkan menjadi salah satu pengurus masjid d kampung kami, banyak kebaikan yg telah uwa & emih tebar kepada warga sekitar sehingga Uwa & Emih amat dihormati oleh kami keluarganya juga tetangga2nya.

Keinginannya sejak dulu adalah menunaikan ibadah haji, oleh karenanya uwa menabung sedikit demi sedikit dari hasilnya berladang dan bertani utk mencapai impian sucinya berangkat ke tanah suci. Setelah menabung sekian lama akhirnya mereka bisa mendaftar haji dan melunasi semua biayanya. Setelah menunggu akhirnya mereka mendapat jadwal keberangkatan pada musim haji 2019.

Tapi sayangnya sebulan sebelum uwa dan emih berangkat haji, ternyata Emih pergi lebih dulu menghadap sang ilahi, kepergiannya begitu mendadak sehingga kami pun amat sangat syok. Suatu pagi selepas shalat subuh badannya ditemukan sudah dingin terbujur kaku d atas sofa, padahal selama ini emih tidak punya keluhan penyakit apa-apa dan nampak sehat-sehat saja. Bahkan sehari sebelum kepergiannya emih masih menemani Uwa menggarap ladang dan bekerja di sawah seperti biasa. Emih pun sudah memesan perlengkapan haji seperti gamis dan kerudung panjang untuk persiapan pergi bulan depan, mereka berdua sangat-sangat bersemangat memepersiapkan keberangkatan mereka bulan depan. Tapi ternyata takdir berkata lain. Uwa sangat terpukul dengan kerpegian emih, ia bahkan sempat mengurungkan niatnya utk berangkat ke tanah suci, tapi kami terus meyakinkan dan menghibur Uwa supaya Uwa tetap mau berangkat menunaikan impiannya yang sudah lama ia perjuangkan.

Hari yang ditunggu pun tiba, Uwa akhirnya berangkat seorang diri k tanah suci. Saat kami melepasnya pergi di masjid agung kota, Uwa tak kuasa menahan air matanya, betapa tidak, seharusnya hari itu adalah hari yang paling membahagiakan utk Uwa dan emih, tapi sayang Uwa harus berlapang dada menunaikan ibadah haji tanpa sang istri tercinta.

Uwa bercerita, saat ia sudah di tanah suci, selepas ia shalat di masjidilharam, di depan kabah ia berdoa mencurahkan kesedihannya kepada Allah, ia sangat merindukan emih dan berharap emih jg ada disampingnya utk bisa beribadah bersama di depan kabah yg agung. Uwa tahu tidak mungkin orang meninggal bisa hidup kembali tapi Uwa percaya bahwa kabah adalah tempat yg sangat mustajab utk berdoa. Dengan berlinangan air mata Uwa memohon agar sekali saja ia ingin dipertemukan dengan emih di tanah suci ini.

Keesokan harinya saat Uwa berada di depan kabah, diantara kerumunan beribu-ribu orang di pelataran kabah, tiba-tiba ia melihat emih berjalan di depannya. Uwa menyangsikan itu tapi dilihat dari sudut manapun wanita itu terlihat seperti emih, sangat sangat mirip dengan emih. Uwa pun memanggilnya “Emih? Kamu kah itu emih?”, Wanita itu kemudian menoleh dan tersenyum. Alangkah kaget dan takjubnya Uwa karena wajah wanita itu benar-benar seperti emih, bentuk badannya, matanya, hidungnya, pipinya, bahkan bagaimana dia tersenyum, Uwa yakin kalau wanita itu memang benar-benar emih, sang istri tercinta. Uwa tidak bisa berkata apa-apa saking takjub dan kagetnya, ia hanya bisa berlinangan air mata. Betapa Allah maha besar dan maha baik, doanya didengar.

Wanita itu kemudian berjalan pergi, Uwa mencoba mengejarnya tapi dalam sekejap saja wanita itu sudah hilang dari pandangannya, ditambah memang keadaan di pelataran kabah sangat ramai disesaki jamaah lain. Tidak ingin mengambil risiko terpisah dari rombongan, akhirnya Uwa mengurungkan niatnya utk mencari wanita tsb lebih jauh dan menganggap bahwa pertemuannya dengan sosok emih yang bahkan kurang dari satu menit tersebut sudah cukup mengobati rasa rindunya, hal tersebut adalah suatu rejeki yg tak terkira membuat Uwa bahagia. Itu merupakan salah satu keberkahan dan keajaiban yang Uwa alami selama d tanah suci. Akhirnya keinginannya utk melihat kabah bersama Emih dapat terwujud atas izin Allah.

Terlepas dari apakah benar wanita itu emih atau hanya seseorang yg sangat mirip dengan emih, kami tetap terharu mendengar ceritanya juga ikut berbahagia utk Uwa. Sepulang dari haji kami melihat Uwa nampak sudah jauh lebih ikhlas melepas emih, dan Uwa pun aksemakin rajin beribadah. Semoga beliau termasuk kedalam golongan orang2 yg mabrur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.